Freedom of Life, Mindset Development – Education & Training
Freedom of Life, Mindset Development – Education & Training
Freedom of Life, Mindset Development – Education & Training
Freedom of Life, Mindset Development – Education & Training
Freedom of Life, Mindset Development – Education & Training

Louis Sastrawijaya | Motivator terbaik di Indonesia

Motivator no.1 indonesia, Founder of Freedom of Life, Mindset Development – Education & Training. Penulis buku best seller ‘100% Motivated! (2010) & ‘The Miracle of Working with Passion’ (2012) dan ‘Change Your Beliefs, Change Your Life’ (2014) ‘Turning Passion into Action for Excellent Performance’ (2016) yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Motivator indonesia terbaik karena Belajar dari guru-guru terbaik di Australia & USA: - Richard Bandler (co-creator NLP) di USA - John Grinder (co-creator NLP) di Australia - Anthony Robbins (creator NAC) di USA - L. Michael Hall (creator NS) di Australia - Stephen Gilligan (self-relation psychotherapy creator) di USA. *NLP (Neuro-Linguistic Programming), NAC (Neuro Associative Conditioning), NS (Neuro-Semantics). Telah berpengalaman mengajar pada lebih dari 360 perusahaan/institusi, yang dihadiri oleh lebih dari 100.000 peserta, lebih dari 1.500 kelas di berbagai kota besar Indonesia.

NASI, GENGSI, AKSI

in action

Setelah selesai motivation training dengan sebuah bank di Manado, saya berbincang-bincang santai dengan salah satu peserta dalam perjalanan menuju ke bandara Sam Ratulangi untuk selanjutnya akan terbang ke Jakarta.

Dalam suasana santai dia bertanya apakah saya pernah mendengar bahwa orang Manado itu berpikir ‘Meski kalah nasi, yang penting tidak kalah gengsi’. Dijelaskan lebih lanjut bahwa maksudnya boleh saja seseorang sedang tidak punya uang bahkan untuk sekedar buat beli nasi, tapi yang penting adalah menjaga gengsi atau harga diri.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut saya memperhatikan bahasa tubuhnya dan punya persepsi jika dia sendiri tidak nyaman dengan cara berpikir tersebut. Sambil menunggu jawaban saya, dia bertanya lagi ‘Ga bagus ya Pak cara mikir seperti itu?’

Jawaban spontan sy, ‘Tergantung dengan output-nya… Kalau sekedar menjaga gengsi lalu output-nya menjadi iri hati dan tidak melakukan apa-apa ya ga bagus… Namun kalau karena gengsi menjadi sangat semangat untuk melakukan suatu aksi alias suatu tindakan dengan bekerja keras demi meningkatkan harga diri ya malah bagus kan?’

Saya menyampaikan bahwa hal ini bukan hanya berlaku buat orang Manado saja tapi berlaku buat setiap orang. Bagus jika kita punya gengsi dan mau menjaga harga diri di mata orang lain. Yang penting bukan sekedar diam saja, iri hati atau malah mau menjatuhkan orang lain… Namun justru punya semangat melakukan aksi alias tindakan untuk membuat hidup atau pekerjaan kita menjadi lebih baik.

Saya memberikan contoh misalnya seorang atlet lari yang melihat ada pelari lain di depannya dan termotivasi untuk lari lebih cepat untuk melewatinya… Juga seorang pengusaha restaurant yang melihat restaurant di sampingnya lebih ramai dikunjungi daripada restaurant miliknya, merespons dengan meningkatkan kualitas makanan dan pelayanan kepada customer-nya.

Dalam konteks perusahaan misalnya seorang salesman yang tidak mau kalah angka penjualannya dari teman-temannya, sehingga lebih rajin canvasing dan kunjungan ke klien-kliennya. Seorang senior perusahaan yang tidak mau kalah dari juniornya sehingga bekerja lebih keras untuk lebih berprestasi dan mendapatkan promosi terlebih dahulu.

Akhirnya kami tiba di bandara dan sebelum melangkah turun dari mobilnya, saya mengatakan ‘Kita semua sama pak, saya juga punya gengsi dan pikiran tidak mau kalah dari orang lain yang lebih berprestasi dan ayo kita bertindak secara positif melalui aksi’.

Louis Sastrawijaya

Pondasi seorang SPEAKER/MOTIVATOR, apa saja?

strong foundation

Saat ini sudah pukul 20.57 dan saya masih dalam perjalanan menuju Bandung dengan kereta api untuk acara inhouse training besok pagi. Setelah mendengar banyak testimoni tentang kenyamanan perjalanan naik kereta api, saat ini saya juga merasakannya. Apalagi msh bisa pegang handphone dengan leluasa sambil menulis artikel ini, hehe… Biasanya naik mobil, kali ini dengan senang hati ke Bandung naik kereta api karena besok memang acara bersama dengan PT. Kereta Api Indonesia.

Sore hari ini saya menghadiri acara Forum AMA Indonesia di salah satu restaurant besar di area Jakarta Pusat dan bertemu sekitar 30 speaker/motivator Indonesia. Selain berbincang-bincang secara informal, yang menarik pada acara tadi juga ada sharing session tentang bagaimana para speaker/motivator memulai dan dalam proses perjalanan mereka sehingga akhirnya memiliki profesi yang menginspirasi banyak orang ini.

Selama perjalanan kurang lebih tiga jam dari Jakarta ke Bandung saya merefleksikan dan menulis artikel ini untuk membagikannya kepada Anda…

Yang menjadi kesimpulan saya, minimal ada tiga hal utama yang perlu dimiliki speaker/motivator untuk bertahan bahkan berkembang selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Tentu sebenarnya lebih dari tiga, namun saya berusaha menarik benang merah dari sharing-sharing sekaligus refleksi diri tentang apa yang sangat mendasar untuk dimiliki sebagai pondasi para speaker/motivator ini.

Yang pertama adalah pentingnya punya PASSION alias semangat yang luar biasa. Para speaker/motivator biasanya menyadari bahwa tidak mudah untuk mendelegasikan tugas menyampaikan materi kepada orang lain karena klien biasanya mengharapkan speaker/motivator yang dipilih untuk bicara, bukan team atau assistant-nya. Andai bisa juga tetap harus duet atau dikombinasi melalui games/simulasi. Jadi pada saat menyampaikan materi, para speaker/motivator membutuhkan passion atau semangat yang luar biasa.

Sikap kedua yang perlu dimiliki seorang speaker/motivator adalah SINCERE; sikap ikhlas sehingga dapat dengan senang hati berbagi ilmu dan pengalaman bagi para peserta… Mindset yang perlu dimiliki adalah mindset bahwa profesi speaker/motivator adalah profesi yang sangat mulia karena bisa membantu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik… Memang ada imbalan dalam bentuk finansial yang tadi juga dibahas bahwa dengan asumsi berada dalam kategori laku maka seorang speaker/motivator bisa punya pendapatan melebihi seorang CEO pada sebuah perusahaan. Namun begitu, energi yang paling besar justru berasal dari keinginan yang kuat dalam berbagi.

Yang ketiga sekaligus yang paling penting menurut saya adalah kekuatan DOA, iman atau keyakinan bahwa semua yang terjadi sudah diatur. Artinya bagaimana kita perlu terus menyadari, mensyukuri dan memaksimalkan potensi kita untuk berbagi kebaikan bagi orang lain. Dengan kerangka berpikir seperi ini maka seorang speaker/motivator juga akan senantiasa rendah hati dan menyadari selalu ada kekuatan yang jauh lebih besar dari diri mereka yaitu kekuatan Sang Pencipta kita.

Semoga tulisan ini menginspirasi Anda semua, salam Work with Passion!

Louis Sastrawijaya

Do your best and let God do the rest

fire

Do your best and let God do the rest.

* kalimat diatas ada pada bagian awal buku ‘Turning Passion into Action for Excellence Performance’ by Louis Sastrawijaya

Tulisan singkat dibawah ini konsepnya sama tapi ulasannya berbeda biar setelah Anda membaca, masih akan tetap segera ke Gramedia buat membeli bukunya, hehe…

Sekitar akhir Februari 2016 saya melihat jadwal kegiatan pada bulan Maret masih kosong. Saya berpikir bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk kontak lalu ketemu untuk silaturahmi dengan beberapa klien, setelah awal tahun waktunya padat buat inhouse training…

Namun ternyata minggu terakhir di bulan Februari tersebut hingga saat ini berturut-turut ada undangan sepuluh batch dari perusahaan semen, telekomunikasi, otomotif, IT dan bank. Yang menarik adalah 9 dari 10 kelas merupakan undangan kembali dari klien-klien yang sama!

Begitulah yang terjadi selama 12 tahun saya berkarya sebagai motivational coach; punya passion lalu action dengan usaha meraih excellent performance. Bukan kebetulan namun ini memang merupakan aplikasi dari buku baru saya ‘Turning Passion into Action for Excellent Performance’…

Tujuan tulisan singkat ini adalah mengajak kita semakin sadar tentang pentingnya punya passion atau gairah luar biasa atas apapun yang kita lakukan… Kita bekerja dengan senang hati dan menikmati semua aktivitasnya… Terus mau maju menjadi lebih baik dengan semangat memberikan kontribusi kepada orang lain/perusahaan… Sadar bekerja bukan hanya untuk diri sendiri tapi buat keluarga dan juga sebagai ibadah…

Selanjutnya passion tersebut akan kita aplikasikan menjadi action atau tindakan yang nyata…. Secara konsisten. Hasil akhir yang senantiasa kita mau capai adalah excellent performance. Dalam prosesnya, biasanya juga akan ada berbagai tantangan sekaligus banyak hal yang bisa kita pelajari. Yang penting adalah kita terus punya semangat continuous improvement atau perbaikan secara terus menerus…

Semangat kita untuk berkarya secara terbaik akan menghasilkan hasil terbaik yang dapat dilihat, didengar dan dirasakan orang lain. Oleh karena itu ayo kita terus punya semangat untuk bekerja secara yang terbaik, mengiringinya dengan doa dan yang terbaik akan kita terima, amin.

Louis Sastrawijaya

Sadar Diri, bukan Rendah Hati

self awarness-sadar diri

Sadar Diri, bukan Rendah Hati

By: Louis Sastrawijaya

Seingat saya selama ini sudah lebih dari seratus orang dan kebetulan pada bulan Desember 2015 ini ada tiga orang lagi menyampaikan pernyataan yang sejenis ini; ‘Bapak hebat banget lho, rendah hati meski pengalaman mengajarnya banyak sekali…’, ‘Pak Louis itu orangnya low profile padahal sudah belajar kemana-mana sampai ke Amerika…’, ‘Bapak luar biasa humble mau bergaul sama kita-kita yang orang biasa aja’.

Ungkapan-ungkapan spontan tersebut yang kebanyakan dari para peserta inhouse training, membuat saya merenung dan berpikir apa yang membuat mereka sampai berkata seperti itu. Sebenarnya kalau dipikirkan dengan akal sehat, faktanya banyak juga orang yang lebih tinggi secara kompetensi atau prestasi dalam berbagai bidang yang mereka geluti.

Pada suatu kesempatan ketika saya berdoa, saya menyadari bahwa sebenarnya lebih tepat jika dikatakan bahwa saya itu sadar diri, bukan rendah hati. Maksudnya bukan dengan sengaja saya merendah namun merasa tinggi di dalam hati, tetapi memang saya benar-benar tidak merasa tinggi sehingga tidak layak menyombongkan diri.

Keyakinan saya adalah kita semua memang merupakan manusia luar biasa yang punya sangat banyak potensi, dan lebih tepat jika dikatakan itu merupakan kehebatan Dia yang menciptakan manusia. Kita semua diberikan kompetensi dan kesempatan untuk berprestasi sesuai dengan jalan kita masing-masing. Apa yang menjadi tugas kita adalah selalu berusaha memaksimalkan potensi diri untuk meraih berbagai prestasi. Selain itu doa kita juga doa dari orang-orang yang kita cintai merupakan kekuatan yang paling besar dalam memberikan kontribusi pada kesuksesan atau kekuatan diri kita dalam menjalani proses menuju kesuksesan selama ini.

Para pembaca yang baik, jadi ini yang saya namakan kesadaran diri. Melalui kesadaran diri, perasaan bersyukur dan pola pikir bahwa diri kita masih perlu terus belajar akan selalu kita miliki. Kesadaran diri juga akan menghindarkan kita dari perasaan rendah diri. Namun sebaliknya, justru kesadaran diri ini akan menciptakan kesan kerendahan hati dari mereka yang mengamati.

Mari pada penghujung tahun 2015 ini kita lebih punya kesadaran diri, menyadari betapa banyak berkat yang kita terima dan perlu kita bagi dengan senang hati kepada orang lain, menyadari betapa banyak potensi dan kompetensi yang kita miliki untuk dimaksimalkan pada tahun 2016 agar semakin banyak berprestasi.

Salam Work with Passion!

Work with Passion!

Work-with-Passion

By: Louis Sastrawijaya

Sampai dengan saat menulis artikel ini, sudah sebanyak lima kali saya mengikuti seminar Anthony Robbins yang banyak dikenal sebagai Peak Performance Coach sekaligus sebagai Motivational Speaker yang terbaik di dunia. Namun baru pada saat ketiga kalinya saya mengikuti seminarnya di Sydney – Australia pada bulan Maret 2011, saya sangat terinspirasi dari satu kata yang selalu ada di halaman depan handout-nya, yaitu; passion! Ketika melihat kata passion tersebut, mata saya langsung melototinya sekian menit dan langsung berpikir telah menemukan satu kata yang paling tepat sebagai jawaban atas pertanyaan yang sangat mendasar ‘Apa yang membuat selama tujuh tahun saya bisa terus konsisten dalam memberikan ratusan inhouse training pada berbagai perusahaan di Indonesia?’. Sangat tepat jawabannya bahwa karena selama ini saya menjalaninya dengan passion!

Pada Wikipedia, passion diartikan sebagai ‘very strong feeling about a person or thing. Passion is an intense emotion, a compelling enthusiasm or desire for something’. Dalam bahasa sehari-hari saya, passion berarti gairah atau semangat luar biasa yang kita miliki saat melakukan suatu aktivitas pekerjaan. Passion bisa membuat kita lupa waktu ketika bekerja karena saking senang dan menikmati apa yang sedang kita lakukan tersebut. Saat itu langsung saya berimajinasi akan membuat materi motivasi tentang passion untuk lalu sharing melalui berbagai inhouse training.

Akhirnya komitmen saya membuat imajinasi tersebut menjadi realita; materi Work with Passion selesai sebulan sejak pulang dari Sydney. Selanjutnya saya mulai pertama kali memberikan materi Work with Passion ini ke sebuah bank dalam sebuah acara tingkat Nasional. Karena materinya dianggap bagus oleh manajemen lalu saya langsung diberikan kepercayaan untuk roadshow ke lima belas kota di Indonesia. Setelahnya langsung ada sebuah perusahaan otomotif juga mengajak roadshow untuk memberikan materi Work with Passion dengan keliling tujuh kota di Indonesia. Demikian seterusnya sampai dengan saat tulisan ini dibuat pada bulan Oktober 2015 yang berarti selama empat tahun enam bulan dari kisah saya diatas, telah tercatat oleh sekretaris saya bahwa materi Work with Passion ini telah diberikan kepada lebih dari 70 perusahaan dengan lebih dari 200 kelas!. Saya sungguh takjub dengan angka yang luar biasa ini dan puji Tuhan materinya bisa menjadi berkat bagi hampir 20.000 orang!

Salah satu yang menarik adalah materi Work with Passion yang saya ciptakan sendiri ini agak berbeda dengan konsep berpikir beberapa penulis atau trainer yang mengatakan bahwa kita harus memilih pekerjaan sesuai dengan passion yang kita miliki. Tentunya saya juga setuju bahwa alangkah idealnya jika kita memiliki pekerjaan yang sesuai dengan passion sehingga kita bisa memberikan excellent performance kepada perusahaan. Namun kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua dari kita sudah berada dalam kondisi tersebut. Sebenarnya kita juga selalu punya pilihan untuk langsung resign dari perusahaan sekarang dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion kita. Tetapi ketika pekerjaan saat ini kurang sesuai dengan passion, kita juga perlu memahami bahwa bisa jadi perusahaan sedang membutuhkan tenaga kita untuk melakukan suatu tugas, atau kita sedang memiliki kebutuhan finansial keluarga yang perlu menjadi prioritas.

Jadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika pekerjaan yang telah kita miliki saat ini kurang sesuai dengan apa yang menjadi passion kita? Apa yang akan terjadi jika kita perlu melakukan suatu aktivitas pekerjaan yang kurang kita sukai? Apakah kita akan tetap bisa memberikan kontribusi hasil kerja yang terbaik? Sebagai bentuk tanggungjawab sebagai seorang profesional atas pekerjaan yang kita pilih saat ini dan tanggungjawab sebagai seorang kepala rumah tangga untuk menjadi role model dan mencari nafkah buat keluarga, tentunya kita perlu untuk memberikan jawaban bisa. Tinggal persoalannya adalah bagaimana caranya supaya bisa….. .

Yang paling mendasar disini adalah niat dan tekad yang kuat untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan kita secara excellent. Menyadari tanggung jawab kita dan komitmen untuk mengerjakannya dengan senang hati. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan menciptakan passion dalam diri kita pada apa pun pekerjaan kita saat ini!

Berikut ini adalah ringkasan tentang apa yang saya sharing-kan kepada para peserta agar dapat senantiasa Work with Passion… Setiap orang termasuk Anda pasti bisa melakukannya. Silahkan disimak lalu dilaksanakan terutama demi Anda sendiri… Yang pertama-tama adalah melalui bekerja secara fun & enjoy yang akan membuat kita akan bekerja tanpa merasa bekerja. Dengan begitu kita akan dapat bekerja tidak hanya sekedar untuk memenuhi tanggung jawab dan kewajiban saja, namun dengan senang melakukannya sehingga mampu bekerja dengan sepenuh hati. Teknik sederhananya adalah berpikir secara rutin apa yang dapat Anda syukuri, senangi dan nikmati dari pekerjaan saat ini… alihkan fokus Anda ke hal-hal yang positif dan Anda akan punya emosi yang juga positif.

Selain itu kita juga perlu untuk mempunyai semangat untuk growth & contribution; tidak hanya puas terhadap hasil telah dicapai namun terus mau mengalami peningkatan dalam semua aspek pekerjaan kita, bahkan menjadi yang terbaik di bidang yang kita geluti. Keinginan berkembang ini juga perlu diimbangi dengan keinginan untuk memberikan kontribusi – kesenangan dan kemajuan bagi orang lain.

Hal ketiga sekaligus yang selalu dianggap paling penting oleh seluruh peserta inhouse training dengan materi Work with Passion adalah kita menyadari Value of Work, yaitu kesadaran untuk apa dan untuk siapa kita perlu melakukan suatu pekerjaan secara total dan sepenuh hati. Bekerja adalah ibadah dan perasaan cinta kepada keluarga adalah jawaban yang paling sering saya terima.

Para pembaca yang baik, marilah kita senantiasa Work with Passion!

Untuk lebih detail Anda juga bisa melihat ulasan singkatnya di YouTube; Work with Passion – Louis Sastrawijaya atau langsung mengundang saya untuk inhouse training di perusahaan Anda, hehehe…

Pada bulan Januari 2016 nanti akan terbit buku lanjutan dari buku ‘The Miracle of Working with Passion’ (2012) dengan judul ‘Turning Passion into Action for Excellent Performance’ oleh Gramedia Pustaka Utama. Ingat dan pastikan Anda membelinya ya…..

Salam Work with Passion!

BRUGADA?

periksa jantung

BRUGADA?

“Pak Louis, jantung bapak abnormal”, ucap dokter jantung di salah satu rumah sakit tempat saya melakukan medical check-up. Entah bagaimana kelihatannya diri saya saat itu, saya hanya bisa terdiam dan merasa kaku, sambil tidak bisa mencegah bayangan bahwa sebentar lagi saya akan meninggal dunia.

Beberapa saat selanjutnya dokter tersebut mengajak saya melihat artikel pada gadget yang dipegangnya sambil mengatakan bahwa saya menderita sindrom brugada, yaitu gangguan irama jantung yang beresiko sudden cardiac death alias kematian jantung mendadak!

Dengan harapan yang sangat tinggi untuk menemukan solusinya,saya bersama-sama dokter mencari artikel-artikel bagaimana cara pengobatan atau pencegahannya, sampai akhirnya dapat disimpulkan bahwa sindrom ini tidak ada obat dan cara pencegahannya!