BRUGADA?

brugada

BRUGADA?

“Pak Louis, jantung bapak abnormal”, ucap dokter jantung di salah satu rumah sakit tempat saya melakukan medical check-up. Entah bagaimana kelihatannya diri saya saat itu, saya hanya bisa terdiam dan merasa kaku, sambil tidak bisa mencegah bayangan bahwa sebentar lagi saya akan meninggal dunia.

Beberapa saat selanjutnya dokter tersebut mengajak saya melihat artikel pada gadget yang dipegangnya sambil mengatakan bahwa saya menderita sindrom brugada, yaitu gangguan irama jantung yang beresiko sudden cardiac death alias kematian jantung mendadak!

Dengan harapan yang sangat tinggi untuk menemukan solusinya,saya bersama-sama dokter mencari artikel-artikel bagaimana cara pengobatan atau pencegahannya, sampai akhirnya dapat disimpulkan bahwa sindrom ini tidak ada obat dan cara pencegahannya!

Lima hari berikutnya saya pergi ke dokter spesialis jantung yang terkenal dengan kejelian dalam menganalisa irama jantung, hasilnya saya tidak dengan akurat menderita sindrom brugada. Pada pemeriksaan EKG (pemeriksaan aktivitas elektrik jantung) yang dilakukan, pola denyut jantung tidak sama persis dengan sindrom brugada. Pada konsultasi juga tidak ditemukan gejala-gejala yang biasa ditemukan pada penderita sindrom tersebut, sehingga pada akhirnya dokter spesialis jantung ini mengatakan ‘Tenang Pak Louis, saya yakin Anda tidak menderita sindrom brugada’.

Para pembaca yang baik, tulisan diatas adalah pengalaman nyata yang saya alami minggu lalu. Kondisi saat ini diri saya sudah merasa tenang. Justru pengalaman ini sungguh-sungguh menginspirasi saya tentang apa arti kehidupan, oleh karenanya melalui tulisan ini saya juga ingin sharing kepada Anda semua.

Selama lima hari saya diberikan pelajaran sangat berharga oleh bagian dari diri saya yang terus bertanya terutama saat sebelum tidur ‘Bagaimana jika keesokan hari saya tidak bangun lagi?’, ‘Apa yang akan terjadi dengan kehidupan kedua anak saya yang masih kecil-kecil tanpa kehadiran papanya?, ‘Bagaimana istri saya menjalani hari-harinya tanpa saya sebagai suaminya?’, ‘Bagaimana reaksi mama, kakak dan adik saya kalau saya meninggal dunia?’, ‘Apa yang orang-orang pikir tentang saya, apakah mereka akan merasa kehilangan seorang Louis atau merasa biasa-biasa saja?’

Sungguh lima hari yang benar-benar sangat berharga dan menginspirasi saya!

Para pembaca, bagaimana dengan diri Anda? Apakah Anda sudah siap jika harus meninggal sekarang? Apakah Anda sudah memberikan yang terbaik bagi keluarga Anda; orang tua, suami/istri, anak-anak, saudara, teman-teman Anda?

Saya jadi teringat dengan buku The Seven Habits of Highly Effective People karangan Stephen R. Covey yang mengajak kita membayangkan pada saat kita meninggal dunia nanti, apa kira-kira yang akan dikatakan oleh orang lain dalam pidato pemakaman kita? Akankah mereka mengenang kita dengan positif?

Dari ‘pelajaran brugada’, saat ini saya merasa lebih menghargai hidup. Saya semakin menyadari betapa berartinya setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun bagi kita untuk mensyukuri apa yang kita miliki, melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai dan menggunakan potensi luar biasa yang Tuhan berikan kepada diri kita.

Semoga memberikan inspirasi, salam Live with Passion!

www.Louis-Sastrawijaya.com

Comments are closed.