NASI, GENGSI, AKSI

Setelah selesai motivation training dengan sebuah bank di Manado, saya berbincang-bincang santai dengan salah satu peserta dalam perjalanan menuju ke bandara Sam Ratulangi untuk selanjutnya akan terbang ke Jakarta.

Dalam suasana santai dia bertanya apakah saya pernah mendengar bahwa orang Manado itu berpikir ‘Meski kalah nasi, yang penting tidak kalah gengsi’. Dijelaskan lebih lanjut bahwa maksudnya boleh saja seseorang sedang tidak punya uang bahkan untuk sekedar buat beli nasi, tapi yang penting adalah menjaga gengsi atau harga diri.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut saya memperhatikan bahasa tubuhnya dan punya persepsi jika dia sendiri tidak nyaman dengan cara berpikir tersebut. Sambil menunggu jawaban saya, dia bertanya lagi ‘Ga bagus ya Pak cara mikir seperti itu?’

Jawaban spontan sy, ‘Tergantung dengan output-nya… Kalau sekedar menjaga gengsi lalu output-nya menjadi iri hati dan tidak melakukan apa-apa ya ga bagus… Namun kalau karena gengsi menjadi sangat semangat untuk melakukan suatu aksi alias suatu tindakan dengan bekerja keras demi meningkatkan harga diri ya malah bagus kan?’

Saya menyampaikan bahwa hal ini bukan hanya berlaku buat orang Manado saja tapi berlaku buat setiap orang. Bagus jika kita punya gengsi dan mau menjaga harga diri di mata orang lain. Yang penting bukan sekedar diam saja, iri hati atau malah mau menjatuhkan orang lain… Namun justru punya semangat melakukan aksi alias tindakan untuk membuat hidup atau pekerjaan kita menjadi lebih baik.

Saya memberikan contoh misalnya seorang atlet lari yang melihat ada pelari lain di depannya dan termotivasi untuk lari lebih cepat untuk melewatinya… Juga seorang pengusaha restaurant yang melihat restaurant di sampingnya lebih ramai dikunjungi daripada restaurant miliknya, merespons dengan meningkatkan kualitas makanan dan pelayanan kepada customer-nya.

Dalam konteks perusahaan misalnya seorang salesman yang tidak mau kalah angka penjualannya dari teman-temannya, sehingga lebih rajin canvasing dan kunjungan ke klien-kliennya. Seorang senior perusahaan yang tidak mau kalah dari juniornya sehingga bekerja lebih keras untuk lebih berprestasi dan mendapatkan promosi terlebih dahulu.

Akhirnya kami tiba di bandara dan sebelum melangkah turun dari mobilnya, saya mengatakan ‘Kita semua sama pak, saya juga punya gengsi dan pikiran tidak mau kalah dari orang lain yang lebih berprestasi dan ayo kita bertindak secara positif melalui aksi’.

Louis Sastrawijaya

Comments are closed.